Tags

, , , , ,

“Seperti glasir di permukaan keramik, aku merasakanmu sepanjang waktu. Seperti glasir di permukaan keramik, kepergianmu kini membungkusku dalam kelabu. Mataku tak lelah menatapmu, diam-diam mengabadikan senyumanmu di benakku. Telingaku mengenali musik-musik dalam tawamu, membuatku rindu mendengar cerita-ceritamu. Ruang di pelukanku terasa kosong tanpa dirimu. Dadaku selalu sesak karena tumpukan kesedihan mengenang cintamu. Bahkan ketika kita berjauhan, aku selalu bisa membayangkanmu duduk bersisian denganku. Bahkan ketika aku ingin melupakanmu, bayanganmu datang untuk mengingatkan betapa besar kehilanganmu.”

Tenang, kalem, dan sendu. Ketiga unsur ini tak pernah lepas dari gaya penulisan Windry Ramadhina. Sejak menjadi penggemar tulisan-tulisannya, saya benar-benar merasakan ketiga unsur tersebut selalu hadir dalam karyanya, mulai dari Orange, Montase, Memori, London, Interlude, Last ForeverWalking After You, dan Angel in The Rain. Semuanya memiliki irama yang sama. Selalu menghadirkan perasaan tenang, kalem, dan sendu. Ibarat genre musik, karya-karyanya ini mirip dengan musik klasik yang menenangkan. Memang ada satu unsur khas Windry yang terasa hilang dalam novel Glaze ini, hujan. Ia menggantinya dengan kucing dan air. Tapi tetap saja aura Windry-nya masih sangat terasa kental dan saya masih merasakannya.

“Air membuatku merasa bebas. Tapi, seumur hidup, aku tidak pernah merasa sebebas ini. Aku tidak pernah merasa begitu ringan dan lepas. Seakan-akan, aku bangun hari ini dengan sepasang sayap di punggungku. Beban masa lalu. Kemarahan. Kebencian. Semua hilang, menguap nyaris tanpa jejak.” – Halaman 392

Glaze menceritakan kisah tentang seorang gadis yang kehilangan kekasihnya, lebih tepatnya ditinggalkan selamanya karena sang kekasih yang bernama Eliot sudah tidak bisa menghirup udara di bumi ini lagi. Gadis yang bernama Kara itu bertemu dengan kakak Eliot yang bernama Kalle. Dunia Kara yang penuh dengan seni sangat berbeda dengan Kalle yang seorang pebisnis properti. Kara adalah seniman keramik alias pengrajin keramik. Ia diciptakan oleh Windry dengan sosok yang sangat rapuh sehingga harus selalu dijaga. Oleh karena itu, sebelum meninggal, Eliot memberi pesan lewat kamera videonya kepada Kalle untuk menjaga gadis itu.

Karakter Kara yang rapuh, mengingatkan saya akan tokoh-tokoh perempuan yang diciptakan Windry dalam novel-novel sebelumnya. Semuanya karakter yang terhubung dengan benang merah, sendu dan rapuh. Contohnya saja Ayu dalam novel Angel in The Rain yang harus merelakan orang yang dia cintai pada kakaknya, lalu ada Hanna dalam novel Interlude yang memiliki trauma dengan lelaki karena telah diperkosa oleh kekasihnya, An dalam novel Walking After You yang harus hidup dalam cita-cita kembarannya yang telah meninggal, hah- semuanya sendu-sendu bukan?

Sementara karakter lelakinya justru bertolak belakang. Hampir semua karakter lelaki yang dia buat itu karakter bad boy alias jerk yang punya sikap dingin dan angkuh. Kalle dalam novel ini juga memiliki sifat tersebut. Dia menjelma menjadi sosok yang dingin, angkuh, ketus, dan tidak peduli. Tapi justru inilah yang menjadikan karya-karya Windry memiliki orisinalitas sendiri. Ditambah kata-katanya yang mengalir lembut. Ia benar-benar memberikan kisah yang bisa membuat orang sanggup membaca ratusan lembar karyanya dalam waktu beberapa jam saja.

Saya baru teringat seorang scriptwriter asal Korea Selatan yang bernama Kim Eun Sook yang telah melahirkan karya-karya seperti Secret Garden, Gentleman Dignity, The Heirs, Descendants of the Sun, dan yang terakhir tayang adalah Goblin. Beliau selalu membuat karakter tokoh prianya bersinar karena memiliki karakter yang khas. Nah, kalau karya Kim Eun Sook punya karakter lelaki yang menonjol, Windry Ramadhina justru punya karakter perempuan yang menonjol sehingga membuatnya tampil beda dengan penulis lainnya. Semoga Windry tetap terus berkarya dan tidak kehilangan sentuhan magisnya. Lima bintang untuk Glaze, Kara, dan Kalle yang bikin sore hari saya yang mendung terasa lebih sendu dengan kisah mereka.

Judul Buku: Glaze

Penulis: Windry Ramadhina

Penerbit: Roro Raya Sejahtera (Imprint Twigora)

Tahun Terbit: 2017

Jumlah Halaman: 396 halaman

Advertisements