Tags

, , , , ,

purple-eyes-by-prisca-primasari“Pemuda itu masih hidup dan gadis itu sudah mati”

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin. Namun, saat Ivarr bertemu dengan Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Sudah lama tidak membaca novel karya Prisca Primasari. Novel sebelumnya yang berjudul Love Theft, tidak berhasil menarik minat saya, tapi novel Purple Eyes ini terlihat penuh misteri sehingga membuat saya ingin membacanya. Dilihat dari ringkasan yang ada di belakang novel, ceritanya cukup menarik.Yup, kisah yang ada dalam novel ini memang cukup menarik, yakni tentang seorang pria bernama Ivarr yang dalam istilah psikologi ‘mengalami goncangan bathin’ sehingga ia kehilangan semua ‘rasa’ alias tidak bisa merasakan apapun, entah itu perasaan marah, benci, kesal, atau sedih. Ia kemudian bertemu Solveig yang ternyata adalah seorang gadis yang sudah mati. Psttt! Saya sebenarnya ingin mengungkap sedikit tema yang diambil Prisca dalam novel ini, tapi kelihatannya jika saya mengungkapnya, maka keseluruhan cerita akan terungkap. Jadi, saya memutuskan untuk membuat kalian penasaran.

“Karena terkadang tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi.”

Jika kalian tahu tema keseluruhan yang ada dalam novel ini, kalian pasti langsung bisa menebak alur cerita serta endingnya karena semuanya mudah ditebak. Saya sebenarnya agak kecewa karena saya mengira novel ini akan seperti Eclair yang sukses bikin kepala saya berpikir. Okay, dari segi tema kita lewatkan saja. Kalau dari segi karakter, karakter Ivarr saya rasa tidak terlalu dalam sehingga emosinya tidak tersampaikan pada saya. Beda halnya dengan karakter Solveig yang sangat kuat. Sebenarnya ada satu karakter lagi yang berperan penting dalam novel ini, yakni Halstein. Saya kasih bocoran yah, Solveig memanggil Halstein dengan sebutan ‘tuan’. Hayo, siapa sih Halstein sebenarnya?

Novel ini sebenarnya bisa menyangi kesuksesan Eclair, tapi karena tipisnya halaman menjadikan karakter tidak berkembang dan alur cerita kurang memuaskan. Jujur saja, saya berharap lebih karena saya sangat cocok dengan gaya penulisan Prisca. Hmm, tapi apa boleh buat, novel ini memang tipisss sekali. Hal lainnya yang agak membuat saya kecewa adalah saya tidak suka dengan covernya yang menurut saya terlalu simple. Ini subjektif loh, covernya mirip manga anak remaja. Okelah, tapi novel ini tetap layak baca kok. Saya bisa kasih tiga bintang setengah untuk karakter, tema misteri, dan mitos Yunani yang dihadirkan oleh Prisca.

Judul: Purple Eyes

Penulis: Prisca Primasari

Penerbit: Inari

Tahun terbit: 2016

Jumlah halaman: 144 halaman

Advertisements