Tags

, , , , , , ,

One Little Thing Called Hope by Winna EffendiIni kisah persahabatan yang tak terduga di antara orang-orang yang dipertemukan secara tak sengaja, keteguhan hati untuk bertahan pada pilihan meski itu sulit. Juga tentang cinta dan harapan yang harus dibagi dan direlakan pergi.

AERYN

Hidup Aeryn seolah nyaris sempurna. Cantik, pintar, populer. Namun, setelah kehilangan ibunya, Aeryn menyadari bahwa kebahagiaan tidak pernah berlangsung terlalu lama. Selalu ada sesuatu yang terjadi. Kehadiran Flo dan Tante Hera dalam hidupnya membuat segalanya berubah. Bahagia ternyata tak seperti yang ia duga.

FLO

Bagi Flo, hidup adalah makanan manis, kue, tas perca dan aksesoris buatan tangan, kotak-kotak susu aneka rasa. Juga Genta dan Theo – dua cowok paling berarti baginya. Bahagianya hampir terasa lengkap ketika ia memiliki Aeryn sebagai kakak perempuan yang ia idamkan. Namun, bahagia ternyata tak seperti yang ia duga.

One Little Thing Called Hope adalah novel Winna Efendi kesekian yang sudah saya baca (lupa tepatnya sudah berapa novelnya yang sudah saya baca). Untuk mengawali review kali ini, saya akan membahas terlebih dahulu tema alias garis besar yang diambil dalam novel ini. Sebelum saya membelinya, saya membaca beberapa status di akun twitter milik penulis tentang rating pembaca yang 17 tahun ke atas dan juga tema yang tak biasa serta agak sensitif untuk dibicarakan. Tentu saja saya jadi bertanya-tanya tentang apa sih novel terbaru salah satu penulis favorit saya ini. Intinya tema ini adalah tentang kehidupan anak remaja zaman sekarang yang dibalut unsur persahabatan dan remaja yang sangat kuat.

“We need in love, to practice only this: letting each other go. For holding on comes easily: we do not need to learn it. – Rainer Maria Rilke” – halaman 61

Aeryn dan Flo merupakan saudara tiri yang memiliki kepribadian yang sangat berbeda. Aeryn cantik, pintar, dan sangat populer di sekolah. Sedangkan Flo adalah kebalikan dari Aeryn, ia malah kerap kali dijadikan objek bully di sekolah. Aeryn sangat menjaga jarak dengan Flo di sekolah mereka (FYI mereka berdua satu sekolah). Namun Flo merasakan hal yang berbeda, ia sangat ingin dianggap menjadi satu-satunya saudara Aeryn. Flo yang sangat baik hati dan lemah ternyata mampu meluluhkan sikap keras Aeryn. Meski luluhnya hati Aeryn dikarenakan suatu masalah besar yang membelenggu Flo dan juga dirinya.

“Some beatiful paths can’t be discovered without getting lost. – Erol Ozan” – halaman 71

Jika kamu berpikiran kalau novel ini hanya berisi seputar dunia sekolah dan bully, you’re wrong guys! Novel ini memberikan unsur pertemanan dan keluarga yang sangat erat. Bagaimana sikap Aeryn dan Flo berdamai dengan kenyataan kalau mereka sudah menjadi saudara kandung. Bagaimana Aeryn berusaha menolak keberadaan Flo dan Tante Hera karena Aeryn tak ingin ada yang mengganti keluarga utuhnya terdahulu. Serta bagaimana Flo menyikapi saudara tirinya yang sangat ketus dan selalu memusuhinya.

“The past is for learning from and letting go. You can’t revisit it. It vanishes. – Adele Parks” halaman 225

Di novel ini sebenarnya ada beberapa macam konflik, seperti hubungan Aeryn dan Flo, hubungan Flo dengan Theo dan Genta, situasi di sekolah Aeryn dan Flo, namun yang menjadi konflik paling berpengaruh menurut saya adalah konflik antara Flo dengan salah satu teman cowok Flo (ayo tebak, Genta atau Theo ya?). Saya tidak akan membocorkan detailnya, tapi yang pasti konflik besar tersebut sangat berpengaruh pada hidup Flo dan juga Aeryn.

Setelah kamu membaca ¾ novel ini, kamu baru bisa tahu arti judul ‘One Little Thing Called Hope’ dan saya sangat suka caranya Winna mengambil judul tersebut. Benar-benar memiliki banyak makna karena ‘Hope’ selain bermakna harfiah sebagai harapan, namun juga memiliki makna yang lain dalam novel ini. Saya juga sangat suka covernya yang sangat imut dengan unsur rajutan. Saya akan spoiler sedikit saja, gambar sepatu rajut berwarna biru yang ada dalam cover itu ternyata menyiratkan sebuah arti yang sangat khusus bagi tokoh Flo.

Tema, judul dan cover sudah, lalu segi karakternya yang menurut saya sih oke-oke saja. Untuk alur bagi saya tidak mudah ditebak karena penyelesaian masalah dari salah satu konflik kurang memuaskan saya. Entah kenapa seperti ada yang dipaksakan di dalam ending dari kedua tokoh utama tersebut, yakni Aeryn dan Flo. Saya menyesalkan kenapa akhirnya harus si __ dengan si ___ padahal mereka berdua tidak ada chemistrynya sama sekali. Mungkin sudah keputusan penulis untuk menyatukan mereka. Saya hargai saja (meski tak rela).

Quotes yang dihadirkan juga kebanyakan bukan quotes dari penulis. Padahal saya menanti-nanti quotes-quotes andalannya. Saya merasa seperti ada yang kurang dari novel Winna Efendi yang satu ini. Secara keseluruhan menurut saya sih bagus, tapi tidak wow seperti novel-novel sebelumnya yang mengambil tema berbeda seperti Happily Ever After yang sangat kuat ikatan emosionalnya. So, saya hanya bisa memberikan empat bintang saja untuk novel ini. Mudah-mudahan novel berikutnya bisa lebih wow lagi.

Judul Buku: One Little Thing Called Hope

Penulis: Winna Efendi

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2016

Jumlah Halaman: 422 halaman

Advertisements