Tags

, , , , , , , ,

Last Forever Windry Ramadhina“Bagaimana jika memiliki hanya membuat kita saling melukai?”

Dua orang yang tidak menginginkan komitmen dalam cinta terjerat situasi yang membuat mereka harus memulai memikirkan komitmen. Padahal, bagi mereka kebersamaan tak pernah jadi pilihan. Ambisi dan impian jauh lebih nyata dibandingkan cinta yang hanya sementara.

Membaca kisah yang ada dalam novel ini seperti sedang menonton sebuah film di bioskop. Sangat mengalir dan membuat saya tidak melepaskan novel hingga tamat. Tidak ada satupun scene yang membosankan, semua karakter sangat kuat dan detail sehingga saya bisa larut dan membayangkan jika saya menjadi mereka. Saya sampai membaca non-stop selama kurang lebih lima jam demi menghayati kata demi kata yang membentuk cerita cinta yang sangat indah ini. Thumbs up deh buat mba Windry Ramadhina. Karyanya yang satu ini menurut saya paling the best di antara karya yang lainnya. Saya benar-benar terbuai oleh kisah cinta Samuel dan Lana yang tidak terlalu mendayu-dayu namun bisa membuat hati saya terenyuh dan tersipu-sipu.

Last Forever bercerita tentang seorang lelaki yang bernama Samuel Hardi, seorang sineas film dokumenter dan pemilik studio film ‘Hardi’. Samuel yang seorang playboy dan suka berganti-ganti perempuan akhirnya terjerat dalam cintanya kepada Lana, seorang sineas film dokumenter juga yang sangat keras kepala, mandiri, dan tidak mau bergantung pada laki-laki. Lana mempunyai cita-cita yang sangat tinggi sehingga ia tidak ingin mempunyai komitmen dengan seorang laki-laki.

Samuel dan Lana digambarkan sebagai dua karakter yang mirip satu sama lain. Mereka berdua sama-sama karakter yang kuat. Dari segi keras kepala, angkuh, mandiri, serta mengutamakan mimpi dan cita-cita mereka. Saya sempat takut kalau penempatan dua karakter yang sama ini tidak akan sinkron karena biasanya dua orang yang saling mencintai itu memiliki dua kepribadian yang berbeda sehingga saling melengkapi, tapi ini berbeda. Justru dengan karakter yang mirip ini bisa membuat mereka berdua menyatu dan saling memahami. Saya benar-benar suka pokoknya dengan kisah cinta mereka.

Saya teringat perkataan Windry beberapa bulan yang lalu saat acara meet and greet launching novel Orange, dia mengatakan kalau cerita Sam dan Lana ini masuk dalam kategori dewasa. Memang dari segi konflik serta kisah cinta mereka tergolong dewasa karena ide ceritanya juga sangat dewasa. Saya tidak akan mengungkapkan konflik utama dalam novel ini, jadi baca sendiri yah!

Dalam novel ini Windry kembali mengangkat unsur perfilman, sama seperti dalam novelnya terdahulu yang berjudul Montase. Oh iya, dalam novel ini juga ada Rayyi, tokoh utama dalam novel Montase. Saya kira dia hanya sebatas figuran yang lewat begitu saja di Last Forever. Tapi ternyata dia hadir sebagai tokoh pendukung yang memiliki peran lumayan penting bagi perubahan diri Samuel.

Selain ada unsur perfilman, Windry juga menyisipkan beberapa unsur lain seperti seni tari, makna dari pernikahan, serta ideologi tentang perbedaan budaya barat dan timur. Unsur-unsur tersebut membangun novel ini menjadi sangat berbobot dan penuh makna. Satu lagi, saya sangat suka dengan design covernya, jadi the best cover dari Gagas Media tahun ini. Novel ini benar-benar perfect menurut saya. Thank you Mba Windry yang sudah menuliskan kisah cinta Sam dan Lana yang sangat romantis.

Judul Buku: Last Forever

Penulis: Windry Ramadhina

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2015

Jumlah Halaman: 378 halaman

Advertisements