Tags

, , , , , , ,

Misteri Patung Garam by Ruwi Meita“Tak ada yang bisa menghentikannya, bahkan dirinya sendiri.”

Dia sangat sadis. Dan, dia masih berkeliaran.
Seorang pianis ditemukan mati, terduduk di depan pianonya, dengan bibir terjahit.
Bola matanya dirusak, meninggalkan lubang hitam yang amat mengerikan.
Rambut palsu merah panjang menutupi kepalanya.
Sementara, otak dan organ-organ tubuhnya telah dikeluarkan secara paksa.
Kulitnya memucat seputih garam.
Bukan, bukan seputih garam.
Tapi, seluruh tubuh pianis itu benar-benar dilumuri adonan garam.
Kiri Lamari, penyidik kasus ini, terus-menerus dihantui lubang hitam mata sang pianis.
Mata yang seakan meminta pertolongan sambil terus bertanya, kenapa aku mati?
Garam, kenapa garam?
Kiri Lamari belum menemukan jawabannya.
Sementara mayat tanpa organ yang dilumuri garam telah ditemukan kembali….

Ini adalah novel detektif Indonesia pertama yang saya baca. Saya sangat tertarik dengan ide cerita misteri yang dikaitkan dengan filosofi garam. Setelah menuntaskan membaca novel ini saya merasa sangat kagum akan kepiawaian penulis dalam mencari benang merah dalam novel ini. Benang merah serta latar belakang yang diungkapkan cukup rumit sehingga mampu membuat pembaca penasaran dan terkejut. Saking serunya, saya sampai lupa dengan quotes-quotes yang bertebaran di novel ini.

Hal yang paling menarik dari novel ini adalah benang merah yang dibentangkan oleh si penulis. Mulai dari karakter detektif hingga karakter si pembunuh berdarah garam ini yang mempunyai kaitan erat dengan latar belakang psikologi mereka. Saya tertarik dengan filosofi pembasuhan dosa dengan garam yang berdasarkan pada kisah Idis, istri Lot (atau Luth) yang berubah jadi patung garam karena mengabaikan perintah Tuhan.

Novel ini memang tidak membuat otak kita berputar untuk mencari tahu siapa pelaku pembunuhan layaknya di novel-novel detektif kenamaan seperti Sherlock Holmes, Poirot, serta novel detektif karya Robert Galbraith (JK Rowling). Pada novel Misteri Patung Garam, pelaku pembunuhan sudah dapat kita tebak. Untung saja si penulis memberikan beberapa kejutan yang membuat saya ketagihan membaca novel ini hingga tandas. Untuk novel detektif Indonesia ini saya berikan lima bintang untuk sang jagoan Kiri Lamari.

“Kata orang, karya anak kecil dan karya seniman terkenal kadang tidak bisa dibedakan. Hanya saja, seorang seniman punya konsep, sementara anak kecil punya kebahagiaan.” (Hal. 88)

“Kadang, apa yang kamu kenakan menujukkan siapa dirimu.” (Hal. 211)

Judul Buku: Misteri Patung Garam
Penulis: Ruwi Meita
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 278 halaman

Advertisements