Tags

, , , , , ,

Versus-Robin Wijaya“Selalu ada harapan di antara perbedaan”

Untuk sebuah kisah perbedaan yang dibalut dalam kata persahabatan, tanpa ragu saya akan langsung berikan lima bintang plus plus untuk novel karya Robin Wijaya yang mampu membuat saya terenyuh dan belajar tentang arti sebuah perbedaan dan rasa setia kawan. Saya berani acung jempol tinggi-tinggi sama salah satu penulis lelaki favorit saya ini. Karyanya memang tidak pernah ada yang mengecewakan saya. Saya akan paparkan cuplikan sedikit kisah yang ada dalam novel Versus.

Novel ini berkisah tentang persahabatan tiga orang lelaki yang punya latar belakang kehidupan yang berbeda. Amri, seorang anak polisi yang menjadi spesis endemik. Bima, seorang preman kampung yang selalu menjunjung tinggi arti nilai setia kawan. Serta Chandra, seorang keturunan Tionghoa yang selalu mendapat ketidakadilan sebagai kamu minoritas. Persahabatan ketiganya tidak ada yang bisa mengalahkan.

“Kalau waktu tak pernah berhenti, maka cara kita untuk bertahan adalah dengan terus bergerak. Kalau tak pernah ada solusi, maka cara kita bertahan dari masalah adalah dengan mencoba mengurangi.” Halaman-23

Tidak ada hidup yang sempurna dalam dunia ini. Masing-masing orang selalu punya masalahnya sendiri-sendiri. Masalah yang berbeda, namun mempunyai satu kesamaan kalau mereka tidak bisa lari dari kenyataan.  Amri contohnya, sebagai anak piatu ia selalu berselisih paham dengan ayahnya yang selalu membanding-bandingkan ia dengan adiknya yang bernama Danu. Meski begitu, mau tidak mau ia harus tetap bertahan terus di rumahnya karena ia sangat menyayangi adik semata wayangnya itu.

“Ada hal-hal yang nggak bisa kita ubah sama sekali dalam hidup. Mereka akan terus ada, berjalan bersisihan dalam hidup kita. Sekarang tinggal menentukan pilihan: larut dan hancur di dalamnya, atau malah membiarkannya. Membiarkan bukan dalam arti menyerah, dan bukan pula melawan. Karena melawan adalah bentuk kebencian yang lain.” Halman 159

Lain halnya dengan Chandra yang menjadi kaum minoritas Tionghoa yang kerap kali ditindas oleh orang pribumi. Berkali-kali Chandra mengalami kekerasan fisik dan verbal di sekolah maupun lingkungan sekitarnya hanya karena ia berkulit putih dan bermata sipit. Meski keluarganya terlihat utuh, tapi nyatanya Chandra tidak menemukan arti keluarga itu sendiri. Ayah ibunya terlalu sibuk dengan urusan toko kelontong mereka sementara kakaknya tidak pernah peduli apa yang terjadi pada adiknya meski terkadang adiknya itu pulang dengan wajah babak belur.

“Kadang kita harus melintasi masa lalu. Bukan untuk mengenang-ngenang, tapi untuk menyelesaikan apa yang belum terselesaikan, agar kita bisa melangkah lagi tanpa terbebani bayang-bayang.” Halaman 361

Sebenarnya ada satu benang merah yang menyatukan Amri, Chandra, dan Bima. Mereka sama-sama lahir dalam dinginnya sebuah keluarga. Bima memang tidak seberuntung Amri dan Chandra, ia hidup hanya berdua saja dengan kakak laki-lakinya, kedua orangtuanya bercerai dan hidup dengan pasangan mereka masing-masing tanpa ada yang mau mengurus Bima dan kakaknya.

Ada hal menarik yang menjadi latar cerita novel ini. Tidak seperti tema persahabatan pada umumnya yang mengambil latar sekolah. Versus menghadirkan latar pertikaian dua kampung di daerah Johar Baru, Jakarta Pusat. Pertikaian tersebut sudah turun temurun dan tidak bisa dihilangkan layaknya teori paradoks yang dipaparkan Bima. Saya sempat penasaran googling karena setahu saya, belakangan ini saya pernah mendengar berita di televisi tentang tawuran antar warga di daerah Johar Baru. Menurut saya pribadi, kasus tawuran nyata di Johar Baru ini bisa jadi kisah nyata yang dihadirkan penulis lewat tema persahabatan. Meski penulis memakai dua nama kampung yang berbeda.

Sekali lagi, saya benar-benar terkesan akan kisah dalam novel ini. Dari segi karakter yang sangat kuat, cerita yang mengalir, tema yang menarik, dan juga eksekusi yang wahhh pokoknya tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Padahal si penulis menghadirkan tiga sudut pandang ‘aku’ yang berbeda tapi saya merasa tidak menemukan cela untuk dicela. Perfect and very recommended.

Judul Buku: Versus

Penulis: Robin Wijaya

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2013

Jumlah Halaman: 400 halaman

Ukuran Buku: 13 x 19 cm

Advertisements