Tags

, , , , , , ,

 

Catatan musim“Aku tak ingin menganggapnya sebagai cerita paling sia-sia. Anggap saja ini adalah lembar penutup catatan senja. Berpita manis seperti boneka berdasi yang terlukis di cangkir teh kita.”

Tya Mahani, seorang gadis penyuka hujan, teh, dan pohon mahoni yang bertemu di sebuah shelter bus dengan seorang lelaki bernama Gema Agasta yang gemar melukis. Mereka berdua sering bertemu di shelter bus saat tetesan hujan menderai. Tya selalu menghitung tetesan hujan yang jatuh sementara Gema sibuk dengan sketsa lukisannya. Pertemuan keduanya yang intens membuat mereka berdua kemudian saling menyapa hingga akhirnya mengenal satu sama lain.

Gema selalu teringat pertanyaan Tya tentang pohon apa yang terdapat pada dirinya. Tya merupakan penyuka pohon dan mengganggap mahoni adalah pohon yang ada dalam dirinya sementara Gema adalah pohon trembesi. Tya mengganggap Gema mewakilkan pohon trembesi karena pohon itu adalah pohon hujan. Bagi Tya, Gema adalah rainman-nya.

Tya dan Gema sama-sama saling menaruh hati tapi sayangnya sebelum mereka sempat mengungkapkan perasaan masing-masing, sebuah kejadian tak terduga menimpa Gema. Ia menjaga jarak dengan Tya hingga akhirnya ia pergi ke Lille, Perancis meninggalkan Tya di kota hujan tempat banyak kenangan yang telah mereka buat.

Tya yang tidak bisa melupakan Gema akhirnya menyusul ke Lille. Tya sengaja mengambil beasiswa untuk melanjutkans sekolahnya di sana. Mereka berdua pun bertemu, tapi Gema tetap menjaga jarak dengan Tya dan mengatakan kalau Tya hanya ia anggap sebagai teman saja dan menyuruh Tya untuk melupakan perasaannya tersebut.

Suatu hari sahabat lama Tya, kak Agam muncul dihadapan Tya. Agam dan Tya merupakan teman sejak kecil saat mereka masih bertetangga dulu. Sejak Agam pindah rumah ke Padang, mereka berdua saling berkirim paket cangkir dengan sebuah memo di dalamnya. Agam dan Tya sama-sama saling menyukai teh. Teh biji mahoni yang terasa pahit adalah teh favorit keduanya. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Lalu apakah perasaan Tya pada Gema akan berubah? Baca saja yah ^^

Sebelumnya saya telah membaca novel Tyas yang berjudul Dance For Two. Jujur saja, saya kagum pada gaya bahasanya yang terasa adem dan teratur. Hanya saja di novel Dance For Two saya tidak merasakan cerita yang mengena. Tapi berbeda dengan novel Tyas Effendi kali ini, saya merasa novel ini mendekati kata sempurna. Padalah novel ini lebih dulu dirilis oleh Gagas Media dibanding Dance For Two.

Selain menciptakan alur yang teratur dan rapi, cerita dari novel ini sangat manis. Saya bisa merasakan interaksi kedua tokohnya dengan sangat nyaman dan mengalir. Mungkin karena menggunakan kata ganti orang pertama ‘aku’. Penulis menggunakan dua sudut pandang, yakni dari Tya dan Agam, masing-masing menggunakan orang pertama ‘aku’. Saya merasa puas saat menamatkan novel ini. Saya teringat pernah membaca blog pribadi milik penulis dan menemukan kalau ia penggemar tulisan Windry Ramadhina. Well, mereka berdua sama-sama penyuka hujan dan segala sesuatu tentang hujan. Novel Tyas kali ini pun tak luput dari hujan, serta pohon. Yup, Tyas memang tidak pernah lepas dari segala sesuatu yang berkaitan dengan pohon. Hal ini bisa menjadi point tambahan. Overall, saya berikan lima bintang untuk tulisan Tyas kali ini yang bisa membuat saya merasa damai membacanya.

“You come to love not by finding the perfect person, but seeing an imperfect person perfectly.” – Sam Keen

Judul: Catatan Musim

Penulis: Tyas Effendi

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2012

Jumlah Halaman: 270 Halaman

Advertisements