Tags

, , ,

budaya membaca orang JepangJepang, negara maju yang punya segudang ilmu pengetahuan, terutama teknologi. Sebenarnya dari manakah ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan sehingga mereka bisa menjadikan negara mereka pantas untuk disandingkan dengan negara maju di benua Eropa maupun Amerika? Jawabannya adalah membaca. Sudah bukan rahasia lagi kalau Jepang membudidayakan gerakan gemar membaca sejak masih kecil.

– Membaca di Transportasi Umum
Jika kebanyakan orang masa kini selalu sibuk dengan ponsel pintarnya saat berada di transportasi umum, maka kita akan disuguhi pemandangan yang berbeda saat berada di Jepang. Hampir kebanyakan orang di sana selalu membaca buku atau komik saat bepergian untuk mengusir rasa bosan.

– Tachiyomi
Apa itu tachiyomi? Tachiyomi adalah salah satu kegiatan membaca gratisan yang dilakukan sambil berdiri di toko buku. Di Jepang, banyak toko buku yang menyediakan buku-buku yang plastik pembungkusnya sudah terbuka, sehingga dapat dimanfaatkan oleh banyak orang untuk melakukan kegiatan tachiyomi ini. Penjual toko buku ini pun banyak yang membiarkan begitu saja kegiatan tachiyomi ini. Ia tidak takut merasa rugi akibat banyaknya pembaca yang berniat membaca gratisan tersebut. Ia malah berprinsip, semakin ramai tachiyomi yang ada di tokonya maka semakin banyak kemungkinan orang tersebut membeli buku pada keesokan harinya atau hari lainnya.

– 10 Menit Membaca Setiap Hari di Sekolah
Menurut Yoshiko Shimbun, sebuah harian nasional Jepang terbitan Tokyo, kebiasaan membaca di Jepang diawali dari sekolah. Para guru mewajibkan siswa-siswanya untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kebijakan ini telah berlangsung selama 30 tahun. Para ahli pendidikan Jepang mengakui bahwa pola kebiasaan yang diterapkan ini terlalu bersifat behavioristik, di mana terdapat reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) dalam pelaksanaan aturan tersebut. Namun, pembiasaan yang dilakukan dari tingkat sekolah dasar dinilai cukup efektif, karena dilakukan pada anak-anak sejak usia dini.

– Banyaknya Toko Buku
Menurut data dari Bunkanews, jumlah toko buku di Jepang adalah sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang.

– Acara Toko Buku Sekiguchi di Televisi
Acara ini sangat membantu bagi penggemar buku yang sibuk dan tak sempat berlama-lama di toko buku. Penonton bisa melihat referensi yang divisualisasikan dalam layar TV dan memesan lewat internet atau telpon jika tertarik untuk membeli. Mirip sebuah “televisi shopping”, namun yang dipromosikan adalah buku.

– Mengarang Sejak Kanak-Kanak
Budaya baca masyarakat Jepang yang tinggi ini tentu saja merupakan efek timbal balik dari tingginya budaya tulis mereka. Ada konsumen karena ada produsen, ada produsen karena ada konsumen. Budaya tulis Jepang sudah ditekankan sejak mereka sekolah dasar. Anak-anak SD biasaya selalu mempunyai tugas “sakubun” (artinya mengarang) dalam waktu-waktu tertentu.

– Penerjemahan Buku Asing Sejak Tahun 1684
Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dan sebagainya). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan.

Dimuat di www.jadiberita.com

Advertisements