Tags

, , , , , , , ,

montase-windry ramadhinaWell, meskipun ini merupakan novel keempat Windry, tapi saya sudah membaca novel-novel Windry setelah Montase seperti London dan Walking After You. Di dua novel terakhirnya, Windry tidak pernah mengecewakan saya karena novelnya selalu berisi serta bahasa deskripsinya sangat bagus dan mengalir. Ia selalu memberikan pengetahuan kepada para pembacanya sehingga novel yang ia hadirkan sarat akan makna.

Montase, bermakna sebagai sinematografi yang berarti gabungan antara fotografi dengan teknik perangkaian gambar. Montase sendiri menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah gambar berurutan yang dihasilkan dalam film untuk melukiskan gagasan yang berkaitan. Yup, novel ini memang berkisah tentang sinematografi. Tokoh utama dalam novel ini seorang pemuda bernama Rayyi yang kuliah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Ia sangat ingin menjadi sineas professional dalam film dokumenter sementara ayahnya, seorang produser ternama yang memaksa anak semata wayangnya itu untuk mengikuti jejak sang ayah menjadi produser film komersial.

Rayyi bertemu dengan seorang gadis Jepang bernama Haru yang juga memiliki impian yang sama, yakni membuat film dokumenter. Rayyi yang awalnya tidak tertarik pada Haru akhirnya jatuh cinta pada gadis yang senyumnya seperti perahu naga itu. Di sini ada suatu kejutan yang diberikan oleh Windry Ramadhina dalam klimaksnya, klimaks yang sangat berpengaruh pada ending yang dihasilkan.

Saya merasa puas saat selesai menamatkan novel ini. Memang, Windry selalu hadir dengan info pengetahuan yang ia selipkan dalam novelnya sehingga tulisannya menjadi berisi dan bermakna, bukan hanya berisi tentang roman picisan saja. Di sini saya jadi tahu banyak tentang dunia sinematografi film dokumenter meski dulu saat kuliah saya pernah mengambil mata kuliah sinematografi secara global, tapi saya merasa ilmu yang disharing oleh Windry ini cukup bermanfaat. Ada banyak pengetahuan tentang jenis kamera, lensa, serta teknik pengambilan gambar untuk film dokumenter seperti double exposure, fast motion, slow motion, freeze frames, split screens, extreme close-ups, dan sebagainya.

Selain itu, yang paling utama adalah sebuah pesan yang saya tangkap dari novel ini yakni tentang wajah dunia perfilman Indonesia saat ini. Memang sekarang sangat langka menemukan sineas muda yang berkutat dengan film dokumenter, faktor utamanya adalah karena film dokumenter tidak banyak menghasilkan uang. Uang adalah momok masalah utama yang dihadapi para sineas selain karena pasar Indonesia yang masih belum bisa menerima film berbobot. Mereka lebih memilih menonton film horror, komedi, atau percintaan alay yang menurut saya scriptnya tidak jelas dan tidak ada pesan di dalamnya.Β  Mudah-mudahan bagi siapapun yang membaca novel ini sadar bahwa kita sebagai penonton juga harus selektif memilih film dan selalu mendukung film Indonesia yang bermutu.

Untuk novel keempat Windry Ramadhina kali ini saya berikan full lima bintang.

Judul Buku: Montase

Penulis: Windry Ramadhina

Penerbit: Β Gagas Media

Tahun Terbit: 2013

Jumlah Halaman: 360 halaman

Advertisements