Tags

, , , , , , ,

happily ever after winna effendi“Tidak semua dongeng berakhir bahagia. Namun, barangkali kita memang harus cukup berani memilih; bagaimana akhir yang kita ingini. Dan, percaya bahwa akhir bahagia memang ada meskipun tidak seperti yang kita duga.”

Saat pertama kali membaca sinopsis pada halaman belakang novel ini, saya langsung tertarik untuk membacanya. Apalagi ini adalah karya Winna Efendi, salah satu penulis favorit saya. Tadinya saya tidak mengira tentang isi cerita di dalam novel ini hingga saya membaca ucapan thanks to. Novel ini menggunakan formula yang berbeda dari yang pernah mba Winna tuliskan dalam novel-novel sebelumnya. Jika dalam novel-novel sebelumnya ide cerita mba Winna sarat akan kisah percintaan remaja, novel ini hadir mengetengahkan kisah tentang keluarga yang dibalut dengan unsur dongeng klasik yang sangat unik.

“Everybody wants to live happily ever after. Everybody wants to know their true love is true.”- Giselle (Enchanted) (Hal: 28)
Having a place to go-is a home. Having someone to love- is a family. Having both-is blessing.-Donna Hedges (Hal: 178)

Novel ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang hidup dengan bahagia. Ada ayah, ibu, dan anak perempuan yang bernama Lulu. Lulu sangat mengidolakan ayahnya. Baginya, ayah adalah sosok terfavorit di dunia. Ayah Lulu seorang arsitek yang suka membacakan dongeng untuk putrinya sebelum tidur. Berbagai macam dongeng dari belahan dunia manapun sudah pernah dibacakan oleh ayahnya. Kisah-kisah dalam dongeng yang sarat akan akhir yang bahagia selalu menjadi pertanyaan bagi Lulu, apakah dalam kenyataan hidup kita akan menemukan akhir yang bahagia seperti yang ada dalam dongeng-dongeng?

Piglet: “How do you spell love?”
Pooh: “You don’t spell it. You feel it.”- Winnie the Pooh (Hal: 254)

Meski tema utama dalam novel ini adalah keluarga, tapi mba Winna juga menghadirkan unsur romance yang tidak akan membuat bosan para pembacanya. Lulu, sang tokoh utama diceritakan bertemu dengan seorang anak laki-laki yang suka bermain tetris di bawah ranjang. Anak laki-laki yang selalu membawa kamera polaroid ke manapun karena ia ingin mengabadikan setiap momen dalam hidupnya, merekam setiap wajah orang yang ada di sekitarnya. Ia terpaksa melepaskan impiannya, tapi harapannya tidak akan pernah ia lepaskan. Ia mengajarkan Lulu agar tidak pantang menyerah meski harapan yang ada di depan mata tidaklah cukup untuk mengumpulkan keberaniannya.

“It’s amazing when strangers become friends. But it’s sad, when friends become strangers.”- Unknown (Hal: 108)

Selain menghadirkan kisah tentang keluarga dan cinta, tema pertemanan juga disisipkan di sini. Lulu memiliki seorang sahabat dekat bernama Karin. Sahabat sejak ia kecil. Sahabat yang tidak bisa dipisahkan dari dirinya karena mereka selalu pergi berdua. Tapi entah kenapa, keadaan berbalik. Karin mengkhianati dirinya. Pengkhianatan yang membuat mereka berdua seperti orang asing yang tidak mengenal satu sama lain.

“That’s what friends are for. They help you to be more of who you are.” –Christoper Robin, Winnie the Pooh (Hal: 300)

Saya merasa takjub sekali setelah saya menyelesaikan membaca novel ini hingga tamat. Tidak tanggung-tanggung, saya langsung mengangkat empat jempol untuk mba Winna Effendi beserta kisah mengharukannya ini. Jujur saja ada banyak part (scene) yang sukses membuat saya tersentuh. Bahkan mata saya sampai berkaca-kaca membacanya. Kisah ini sungguh membuat perasaan saya menjadi hangat, haru dan juga mengajarkan banyak pelajaran hidup dalam sebuah keluarga. Membaca buku ini membuat saya teringat ayah saya sendiri yang juga selalu membacakan buku cerita (cerita yang sering beliau bacakan lebih banyak tentang cerita tokoh-tokoh dunia dan juga dongeng Indonesia).

Dari segi alur, latar, karakter, ide cerita, semuanya pas dan TOP banget! Tidak ada kekurangan satu pun. Salut dengan karya mba Winna yang satu ini. Dia berhasil menciptakan formula baru dalam tulisannya. Dan satu lagi, meski novel ini hasil formula baru, tapi ciri khas tulisan mba Winna tidak hilang, ia selalu menyelipkan kisah cinta remaja di dalamnya. Hehehe. Pokoknya five stars buat mba Winna!

“Tak ada yang kekal dalam dunia ini. Namun, perempuan itu percaya, kenangannya akan tetap hidup, dan ia akan terus melangkah ke depan dengan berani.”

Judul Buku: Happily Ever After
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 358 halaman
Harga Buku: Rp 57.000

Advertisements