Tags

, , , , , ,

Novel Last Minute in ManhattanHmph! Saya tidak tahu harus menulis review apa tentang novel ini sejujurnya. Novel ini dibeli oleh sahabat saya dan dia tidak mau bertanggung jawab untuk menyelesaikan membaca novel ini sampai tuntas. Overall, karena cerita di dalam novel ini kata dia sangat “nggak banget”. Saat saya bermain ke rumahnya, saya pun tergugah untuk membaca novel ini. Satu-satunya alasan adalah karena penasaran. Saya tidak ingin kasus ‘Melbourne’ terulang kembali (saya pernah bercerita kalau saya stuck membaca Melbourne pada bagian awal sampai berminggu-minggu, dan ternyata setelah saya membacanya hingga ke pertengahan, novel itu sungguh wow dan berhasil masuk dalam kategori my favourite novel).

Saya kira nasib Last minute in Manhattan ini akan berakhir sama seperti novel Melbourne favorite saya dan ternyata……. Hasilnya cukup mengecewakan. Secara keseluruhan, saya sangat tidak menyukai ide cerita yang dikemukakan oleh penulis. Sangat ABG dan labil. Novel ini bercerita tentang seorang anak remaja yang baru saja lulus SMA bernama Callysta Nararya yang baru saja diselingkuhi oleh pacarnya yang bernama Abram. Ia merasa kalau hidupnya bertambah kacau dengan kehadiran sosok ibu baru yang dikenalkan oleh ayahnya. Ibu tiri yang bernama Sophie membawa anak laki-laki bernama Mark yang usianya berada satu tahun di bawah Callysta. Karena Callysta masih belum menentukan pilihan akan kuliah di mana, ia pun akhirnya ikut dengan Sophie dan Mark ke Chicago. Ayah Callysta akan menyusul pindah ke sana setelah urusannya di Indonesia selesai.

Callysta dikenalkan dengan teman Mark bernama Vesper Skyller. Callysta memanggilnya dengan sebutan Sky (It’s a good name I think). Callysta jatuh cinta pada Sky, begitu juga dengan Sky. Tapi Sky menyimpan banyak rahasia yang tidak diketahui Callysta sehingga membuat perasaan gadis itu selalu bertanya-tanya akan kemisteriusan Sky. Belum lagi Abram yang tiba-tiba nongol di Chicago bersama dengan selingkuhannya yang bernama Maggie.

Okay, enough for the spoiler. Dari segi cerita, jujur tidak ada yang unik dan berkesan. Gaya penceritaannya sangat ABG dan terlalu banyak kebetulan yang tidak masuk akal. Banyak sekali scene yang membuat dahi saya berkerut karena kebetulan-kebetulan yang terlalu dipaksakan seperti saat Abram dan Maggie ada di Chicago, saat Abram terus-terusan dengan tidak sengaja berpapasan dengan Callysta dan ia menganggapnya kalau kebetulan itu adalah destiny, dan juga saat Maggie secara kebetulan berada dalam summer camp bersama Callysta, malahan mereka berada dalam satu kamar. Wew!

Hal lain yang mengganjal saya adalah penggunaan kata ganti yang tidak jelas pada novel ini. Pada awal hingga pertengahan cerita, penulis menggunakan kata ganti prov orang pertama ‘aku’ tapi pada pertengahan cerita prov orang pertama itu berganti menjadi orang ketiga. Lalu pada akhir-akhir cerita, kata ganti beralih lagi menjadi kata ganti orang pertama ‘aku’. Saya benar-benar dibuat bingung oleh si penulis.

Semua novel pasti ada segi negatif dan positifnya. Ada satu hal positif yang saya bisa saya ungkapkan setelah membaca novel ini. Bahasa yang disajikan pada novel ini sangat bagus, banyak pilihan diksi yang tidak terpikirkan oleh saya. Sangat disayangkan sekali cerita yang disajikan sangat berbanding terbalik dengan gaya bahasanya. Cerita yang bisa dibilang untuk kalangan anak-anak ABG disajikan dengan bahasa yang dewasa dan terlalu indah dan detail. Seandainya saja, cerita yang dihadirkan bukan sosok anak gadis ABG yang labil seperti itu, pasti akan jadi novel yang menjadi favorite saya seperti Melbourne.

Okay, for the last. I am sorry, I will give this novel two stars. Bukan untuk cerita, melainkan untuk gaya bahasanya.

Judul: Last Minute in Manhanttan
Penulis: Yoana Dianika
Penerbit: Bukune
Jumlah Halaman: 402 halaman
Harga Buku: Rp 50.000

Advertisements