Tags

, , , , ,

novel notasiFinally kelar sudah saya menamatkan novel ini setelah sebelumnya disibukkan oleh pekerjaan yang membuat saya sedikit lelet hanya untuk menamatkan satu buah novel saja. Well, saya memang sengaja membeli novel karya Morra Quarto ini. Setelah saya membaca Forgiven sebelumnya, saya sangat tertarik membaca novel-novel mba Morra berikutnya. Selain karena bahasanya yang bagus, indah, faktor paling utama adalah tema yang disajikan tidak biasa. Jika pada novel Forgiven, tema dan settingnya adalah tentang kejadian terror bom yang sedang marak pada masa itu seperti serangan bom WTC yang lekat dengan teroris muslim.

Nah, pada novel Notasi, mba Morra mengambil tema yang menyentuh tentang hal-hal yang berbau politik juga. Akhir masa orde baru, masa di mana pemberontakan para mahasiswa di seluruh Indonesia. Masa di mana gedung DPR/MPR berhasil diduduki oleh para mahasiswa dari seluruh penjuru negeri. Masa di mana demokrasi rakyat diperjuangkan oleh para mahasiswa. Kejadian 12 Mei 1998 yang menewaskan empat orang mahasiswa Universitas Trisakti dan juga melukai ratusan mahasiswa. Kita pasti tidak akan lupa kejadian yang menjadi headline news di berbagai dunia tersebut. Suasana yang sangat mencekam, penjarahan di mana-mana, dan juga pemerkosaan terhadap wanita etnis Tionghoa, hingga sampai sekarang saya masih merinding jika membayangkan kalau saya sudah menjadi mahasiswa di masa tersebut (waktu itu saya masih SD).

Novel ini mengambil setting tempat di UGM Yogyakarta. Nalia seorang mahasiswa Kedokteran Gigi dan Nino seorang mahasiswa Teknik Elektro. Meski mereka berdua berbeda fakultas, mereka berdua sama-sama anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di fakultas masing-masing. Saat pertama kali Nalia bertemu Nino, ia sudah jatuh cinta. Nino yang berperawakan tinggi dengan rambut gondrong ikal dan sebuah kacamata minus yang membingkai bola matanya ini merupakan sosok lelaki yang datar dan jarang berbicara. Percintaan antara Nalia dan Nino sangat manis diceritakan dalam novel ini. Mereka saling jatuh cinta di saat yang tidak tepat. Saat di mana mereka ingin membela negeri ini sehingga tidak ada waktu bagi mereka hanya untuk menyatakan perasaan masing-masing.

Semuanya berawal dari Fakultas Kedokteran Gigi yang ingin mempublikasikan acara milik mereka di radio Jawara FM (radio ini beneran ada dan sekarang berganti nama dengan Swaragama FM) milik Fakultas Teknik. Karena saat itu sedang ada pemilihan presiden BEM kampus, maka semua fakultas saling berlomba mencalonkan calon pilihan mereka dari fakultas masing-masing. Begitu juga dengan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Gigi. Suasana pun menjadi sengit satu sama lain. Fakultas Teknik menolak mentah-mentah mempublikasikan acara milik Fakultas Kedokteran, alasan utamanya adalah kalau acara Fakultas Kedokteran sukses dan berhasil, pasti semakin banyak pendukung yang memberikan suaranya ke Fakultas Kedokteran.

Belum lagi, Jawara FM pada masa itu belum memiliki izin resmi dari pemerintah sehingga Jawara FM merupakan radio illegal. Jika sampai pemerintah tahu, bisa saja semua yang terlibat di Jawara FM akan ditangkap atau diculik. Kalau mereka bernasib balik, mereka akan pulang hidup-hidup, kalau tidak mereka hanya pulang dengan nama. Maklum saja, saat itu sedang marak Petrus (Penculikan Misterius). Semua pihak yang menyinggung atau menentang atau berlawanan dengan pemerintah pasti akan ditangkap atau diculik.

Nino adalah salah satu diantara para penggagas Jawara FM dan dia merupakan mahasiswa yang tidak mengenal rasa takut. Tidak hanya Nino, tapi semua anak-anak Teknik tidak mengenal rasa takut. Kala para mahasiswa ingin menggulingkan rezim orde baru dan membutuhkan publikasi secara besar-besaran, anak-anak Jawara FM yang merupakan anak teknik pun siap sedia membantu. Perjuangan mereka tidak hanya mempublikasikan saja, mereka pun ikut terjun berdemonstrasi melawan rezim order baru. Mereka tidak takut mati untuk memperjuangkan hak rakyat.

“Politik adalah parang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi di suatu saat di mana kita tidak bisa menghindari lagi, maka terjunlah.” (Soe Hok Gie) – halaman 154

Biasanya kebanyakan tema novel yang marak akhir-akhir ini adalah novel romance, tetapi novel bertema politik ini sangat segar dan dapat menyegarkan ingatan kita tentang betapa kejinya rezim orde baru saat itu. Para militer dihalalkan untuk menyiksa, memukul, bahkan bisa sampai membunuh orang-orang yang tidak sependapat dengan pemerintah. Jujur saja, saya terhanyut dalam novel ini. Saya juga takjub dengan gaya bercerita mba Morra yang mengalami banyak peningkatan. Two tumbs up deh pokoknya! Saya seperti sedang menonton film dokumenter di sebuah layar lebar, menegangkan dan mengguncang emosi. Banyak yang bilang kalau tema politik dalam novel itu membosankan bla bla bla, tapi tidak dengan novel ini. Saya tidak menemukan satupun titik kebosanan saat membaca novel ini.

Saat membaca novel ini, saya jadi teringat akan seorang dosen saya yang mengajar mata kuliah kewartawanan. Beliau merupakan mantan wartawan majalah Tempo saat itu. Beliau bercerita perihal Petrus dan beliau pernah menjadi salah satu korbannya. Beliau diculik, ditutup matanya dan dibawa ke sebuah tempat. Sempat dipukuli tapi tidak sampai babak belur. Alasannya hanya karena sebuah artikel atau berita yang menginggung presiden yang sedang menjabat saat itu. Setelah itu beliau dibebaskan dengan dibuang di daerah Jeruk Purut. Majalah Tempo memang selalu blak-blakan akan pemerintah terus mendapatkan ancaman dari pemerintah. Kebebasaan pers sangat dikerangkeng sehingga semua hal yang berhubungan dengan pemerintah, rakyat tidak akan tahu karena tidak pernah dipublikasikan oleh media manapun.

Okay, saya sangat merekomendasikan novel ini bagi siapa saja yang butuh penyegaran ingatan akan fungsi pemerintahan yang sebenarnya. Hehehe. Dan satu lagi, seperti biasa, ending di dalam novel ini sungguh tidak terduga. Sejujurnya saya tidak kecewa, tapi menyayangkan pemilihan ending yang tidak saya duga ini. Happy ending or not? You can read by yourself!

Judul Buku: Notasi

Penulis: Morra Quarto

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2013

Jumlah Halaman: 294 halaman

Harga Buku: Rp 34.400

Advertisements