Tags

, , , , ,

Remember WhenYeay! Another sweet story again.

Pertama, yang pasti saya beli novel ini karena saya adalah penggemar beraaattt mba Winna Efendi. Setelah membaca Ai dan Melbourne, Mba Winna sukses sesukses-suksesnya bikin saya tergila-gila dengan tokoh Max yang ada di Melbourne (dibahas lagi saking demennya). Tadinya novel ini masih ada dalam daftar wishlist novel yang akan saya beli beberapa bulan yang lalu, begitu tahu kalau novel ini akan difilmkan, bahkan saya sudah melihat poster film dan pemainnya, saya pun tidak berpikir ulang lagi untuk langsung capcus membeli novel ini lewat toko buku online saya yang selalu memberikan diskon 15-20% (lumayan khan?). Alasan utamanya adalah saya takut kalau cover novel ini akan diganti begitu filmnya tayang di bioskop. Khan ga asik banget kalau cover ciamik yang buat gagas berganti dengan wajah artis yang saya sendiri ga kenal.

 

Ekpektasi saya saat mencaritahu tentang tema apa yang diusung oleh Mba Winna pada novel yang tadinya merupakan draft novel pertama yang ia buat adalah novel ini bertemakan tengang high school. Wah, saya paling anti khan baca teenlit-teenlit EI.BI.JI gitu. Tapi setelah saya baca review sekilas pada cover belakangnya, kok bahasanya bukan bahasa EI.BI.JI yang kental dengan gue elonya itu. Bahasanya dengan cukup puitis dan mengalir seperti pada novel Ai.

Pada saat saya membaca prolog, saya langsung dibuat kepo. Ditambah saat saya membaca lembar-lembar berikutnya karena jujur saja saya tidak tahu siapa tokoh utama lelaki dan perempuannya karena mba Winna menceritakan novel ini dari sudut pandang empat orang yang berbeda (unik menurut saya). Mba Winna menggunakan orang pertama pada keempat orang ini dan saya tidak merasa bingung karena pada setiap pergantian orang akan dibubuhi dengan keterangan di kiri atas paragraf pembukanya.

Semakin membaca lembar demi lembar, saya merasa penasaran alias kepo. Kepo yang paling besar masih tetap dengan ‘siapa sih tokoh utamanya?’ ‘ini nantinya endingnya bagaimana?’. Novel ini berkisah tentang empat orang  murid SMA. Dua cowok, dua cewek.  Moses (suka banget namanya), Adrian, Freya, dan Gia. Moses seorang kutu buku, murid pintar, ketua OSIS yang diam-diam menganggumi sosok Freya. Freya adalah murid pintar yang kuper dan selalu menutup diri, ia selalu berada satu peringkat di bawah Moses dalam hal pelajaran. Adrian adalah anak basket yang suka tebar pesona, tidak pintar, nyaris tidak naik kelas, dan sangat mengagumi sosok Gia. Sedangkan Gia sendiri adalah murid tenar yang cantik dan disukai banyak cowok di sekolahnya.

Moses bersahabat dengan Adrian, begitu pula dengan Freya yang bersahabat kental dengan Gia. Moses dan Adrian seperti dua sisi koin yang berbeda, begitu juga dengan Freya dan Gia. Hingga akhirnya Moses berpacaran dengan Freya dan Adrian dengan Gia. Mereka pun sering double date berempat. Konflik yang hadir lagi-lagi tentang permasalahan persahabatan dan cinta. Siapa dengan siapa? Baca saja novelnya! Hehehe.

Alur ceritanya mungkin biasa, tapi cerita dalam novel ini sangat mengalir sehingga enak sekali dibaca. Tak heran jika novel ini dilirik untuk difilmkan. Untuk masalah tokoh, keempat tokoh ini sama-sama kuat sehingga sampai beberapa halaman saya masih belum bisa menentukan siapa tokoh utamanya. Saya menyukai dua tokoh laki-laki yang dihadirkan pada novel ini. Masing-masing memiliki ketertarikan sendiri yang bisa membuat saya tersenyum-senyum membayangkan mereka. Moses yang selalu ingin melindungi dan menjaga Freya. Meski Moses tipe cowok kaku, dingin dan tidak romantis, tapi terkadang dia so sweet. Mungkin karena ia tidak suka mengumbar-umbar kata cinta seperti Adrian dan tidak ingin mengumbar kemesraan di depan umum sehingga saat ia mengatakan ‘aku sayang kamu Freya’, hati saya yang jadi berbunga-bunga (abis Moses sekalinya romantis bikin skakmat). Moses bahkan tidak pernah mencium Freya meski mereka sudah dua tahun berpacaran. Baginya mencintai seorang gadis adalah melindungi dan tidak menyentuh gadis itu.

Berbeda dengan Adrian yang selalu mengikuti kata hatinya. Ia memang pribadi yang langsung bertindak tanpa memikirkan akibatnya dan termasuk tipe orang yang berani dan suka tantangan, termasuk dalam urusan percintaan. Ia berani mengambil resiko dan menurut saya orangnya cukup gila untuk dikategorikan dalam cowok-cowok normal. Ia tidak tahu malu dan berani bertindak nekat. Tapi disitulah letak kelebihannya. Tidak seperti Moses yang kaku, membosankan (Moses lebih suka bergaul dengan buku dan urusan Osisnya dibanding menemani Freya), Adrian justru sangat bersahabat, enak diajak ngobrol, dan lebih hidup (maksudnya lebih manusiawi disbanding Moses). Masing-masing karakter ada kelebihan dan kekurangannya. Pokoknya saya puas deh dengan dua sosok lelaki yang mengisi novel ‘Remember When’ ini.

Untuk novel Mba Winna yang akan segera tayang filmnya ini, saya akan kasih empat bintang 🙂

“Life is a box of chocolates, you never know what you’re gonna get”-Fannest Gump (Hal 17)

Judul Novel: Remember When

Penulis: Winna Efendi

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2014 (cetakan kedua)

Jumlah Halaman: 252 halaman

Harga Buku: Rp 36.550

Advertisements