Tags

, , , , , ,

interlude windry ramadhinaHorray! saya berhasil menyelesaikan novel ini dalam waktu semalaman. Meski ini adalah novel ke enam milik mba Windry Ramadhina, tapi novel ini adalah novel kedua mba Windry yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca London, salah satu seri STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) yang diusung Gagas Media. Saya akui novel ini memang sudah lama saya incar. Sejak pertama kali terbit dan ternyata novel ini berhasil merajai tangga buku Indonesia (little joking). Selain karena saya terpikat oleh cover buku ini, serta judulnya yang menurut saya unik, mba Windry meninggalkan kesan yang baik pada buku yang saya baca sebelumnya, London. Sejak membaca London, saya menanti-nanti buku mba Widry selanjutnya.

Kelebihan dari tulisan-tulisan Mba Windry adalah bahasanya yang indah serta kental dengan unsur romantis yang detail. Ia selalu mempunyai bahasa tersendiri yang indah. Ia juga punya kemampuan sastra yang patut untuk diacungi jempol ke atas. Dia pun sukses menggaet saya sebagai fansnya. Hehehe. Novel Interlude ini saya pinjam dari sahabat saya yang sama-sama book addicted. Saya dan dia selalu bertukar buku serta selalu berdikusi saat hendak membeli buku. Jika dia sudah membeli buku A, maka saya membeli buku B. Jadi kami bisa membaca dua buku sekaligus hanya dengan membeli satu buku (tukar-tukaran buku).

Kekepoan saya bertambah saat sahabat saya ini mengagung-agungkan sosok Kai yang ada dalam novel ini. Ia bilang, saya bisa jatuh cinta dengan karakter Kai. Saat saya membaca ‘I Thank You’ dalam novel ini, saya menemukan kalau ini adalah jenis genre baru yang diusung Gagas Media, genre new adult. Mba Windry pun sampai riset dan berdiskusi dengan Christian Simamora. Saya sudah sangsi, jangan-jangan ini novel dewasa. Terlebih mba Windry juga memention kata-kata ‘adegan dewasa’ yang kesulitan ia buat. Tapi setelah saya baca, ternyataaaa,,,,

Novel ini bercerita tentang seorang lelaki bernama Kai yang notabene nya seorang bajingan dan playboy abis. He’s totally a jerk! Dia mengencani siapa saja yang ia suka, menidurinya, dan meninggalkan begitu saja saat ia sudah bosan. Ia juga tidak punya tujuan hidup, pemain band yang tidak ingin sukses, dan kuliah yang tidak jelas mau kapan cutinya selesai. Hidupnya berantakan, sangaattt berantakan. Dan semua itu akibat kondisi di dalam keluarganya. Keluarga yang tidak harmonis yang diakibatkan orangtua yang akan bercerai.

Di dalam hidupnya yang berantakan itu, ia dipertemukan dengan seorang gadis bernama Hanna. Hanna mempunyai trauma yang sangat dalam akan lelaki. Mantan pacar Hanna yang seorang kakak kelasnya sudah memperkosa Hanna sehingga merenggut semua dunia Hanna. Hanna menjadi seorang gadis yang pendiam, mengurung diri, dan juga takut akan lelaki. Setiap sentuhan lelaki yang bersinggungan dengannya, ia pasti akan selalu menganggap lelaki itu adalah kakak kelasnya yang brengsek. Hanna kemudian bertemu dengan Kai yang ternyata benar-benar tertarik dan jatuh cinta pada Hanna. Meski gadis itu juga menyukai Kai, tapi rasa takut akan lelaki dan trauma masa lalunya masih terus membelenggu dirinya sehingga tanpa sadar ia sudah menarik diri dari Kai.

Nah, kalian pasti sudah bisa menebak jalan ceritanya. Memang, jalan cerita serta alur yang dihadirkan mba Windry bisa ditebak dan terbilang biasa. Sama seperti jalan cerita London yang juga bisa saya duga-duga. Seperti biasa, Windry detail akan penjabaran dan pendeskripsian. Meski detail novel ini masih kalah jauh dari novel ‘London’, tapi novel ini mempunyai rasa tersendiri dari novel sebelumnya. Ada feeling di dalamnya, jadi terasa lebih hidup.

Novel ini bisa membuat saya tersenyum dan merasa hangat, tak lain dan tak bukan adalah karena sosok Kai. Lagi-lagi karena Kai, ia memiliki karakter yang sangat kuat sehingga sangat menonjol dibanding karakter utama wanita, Hanna. Meski Kai adalah lelaki brengsek, tapi saat ia jatuh cinta pada Hanna, ia berubah menjadi sosok yang manis dan lembut. Saking takutnya ia menyakiti Hanna, ia sampai tidak bisa membelai atau bersetuhan dengan Hanna.

Nah, ini merupakan ciri khas Mba Windry, ia selalu menjuluki tokoh-tokoh yang ia buat seperti dalam novel ‘London’ dengan julukan tersendiri yang unik. Seperti julukan Kai pada Hanna,gadis latte, juga gadis Ipanema. Saya saja baru tahu apa arti Ipanema itu. Karena Hanna selalu membawa saputangan dan Kai menganggap saputangan adalah benda langka di era sekarang, maka Kai meledek Hanna dengan mengatakan kalau Hanna lahir di masa bossa nova. Bossa nova itu sendiri adalah sebuah aliran musik campuran jazz dan samba yang popular tahun 1960an. Salah satu lagu bossa nova adalah ‘The Girl form Ipanema’ itulah asal usul Hanna dipanggil ‘gadis Ipanema’. Unik khan? Mba Windry selalu punya pengetahuan tersembunyi di berbagai bidang, entah itu sastra, musik, maupun yang lainnya.

For this book, I will give 4 stars 🙂

Judul Buku                   : Interlude

Penulis                         : Windry Ramadhina

Penerbit                      : Gagas Media

Tahun Terbit               : 2014

Jumlah Halaman         : 371 Halaman

Advertisements