Tags

, , , , , , , ,

pillow talkAnother Marriageable *I think*

Itulah kesan pertama saya saat pertama kali membaca resensi serta spoiler-spoiler yang dihadirkan di goodreads tentang novel ini. Beberapa bulan yang lalu saat melihat novel ini terpampang di website gagasmedia.net, saya merasa aneh dengan pemberian judulnya. Apa isi novel ini hanyalah omong kosong atau obrolan-obrolan semata. Kemudian, saya melihat novel ini berhasil masuk ke jajaran best seller di berbagai macam book store maupun online book store yang sering saya kunjungi. Berbekal dengan rasa penasaran akan setiap novel yang menjadi bestseller, terutama novel bestseller besutan Gagas Media, saya pun akhirnya membeli novel ini pada akhir pekan lalu.

Kenapa saya bilang another Marriageable? Karena gaya bercerita yang digunakan Christian Simamora, atau saya singkat saja menjadi CS, mirip dengan gaya bercerita mba Riri Sardjono. Mungkin karena mereka menganut genre yang sama yakni metropop sehingga gaya penulisan mereka apa adanya dan tanpa embel-embel kalimat puitis layaknya Windry Ramadhina maupun Robin Wijaya. Kelebihan genre seperti ini adalah mudah dicerna dan yang pasti super duper real alias ya apa adanya seperti apa yang biasanya terjadi pada kehidupan kita sehari-hari terutama kehidupan ibukota Jakarta. Bisa dibilang sejenis dengan serial Sex and The City.

Kalau kalian membaca tulisan yang ada pada bagian belakang novel, kalian pasti akan langsung mengambil kesimpulan kalau ini adalah cerita yang klise. Sepasang laki-laki dan perempuan yang sudah berteman sejak kecil, lalu menyandang label ‘sahabat’ yang meski saya tahu kalau dalam cerita-cerita romance tidak akan ada persahabatan abadi antara laki-laki dan perempuan. Well, dan ini pun terbukti dalam novel ini.

Novel ini mengisahkan tetang persahabatan Joshua yang dipanggil Jo dan Emi yang dipanggil Ems. Jo sebenarnya sudah lama menyukai Ems sejak mereka masih duduk dibangku SMA, tapi Jo tidak mau mengungkapkannya. Alasan paling utama adalah Santo. Ems pernah berpacaran dengan Santo yang dulunya juga sahabat mereka. Santo yang tadinya sahabat Ems berhasil naik tahta mengalahkan Jo menjadi pacar Ems. Baru beberapa bulan jadian, Ems dan Santo putus dan berujung pada ketidakterimaan Santo akan keputusan sepihak Ems. Siapa sangka masalah ini berujung besar hingga menghasilkan buah tawuran antara Santo dan Jo yang sukses menggegerkan satu sekolah. Sejak saat itu, Ems mengemban prinsip bahwa ia tidak akan lagi mengencani sahabatnya sendiri karena itu sama saja dengan bom bunuh diri dan ia takut kejadian Santo terulang kembali.

Ems yang bisa saya bilang seorang playgirl dan penyuka one night stand adalah penentang keras monogami. Ia bisa dengan mudah berganti pacar dan tidur dengan siapa saja. Berbagai macam julukan pun diembannya dan Jo tahu semua itu. Yah, Jo adalah pendengar setia sekaligus diary berjalan Ems. Mau tanya apa saja tentang Ems, Jo pasti tahu. Sampai  role play apa saja yang dilakukan Ems sebelum bercinta dengan para lelakinya pun Jo tahu. Kebalikan dari Jo, Ems sama sekali tidak pernah tahu kehidupan percintaan Jo. Ems hanya tahu siapa pacar Jo sekarang tapi tidak mengetahui kenapa Jo jadian dengan pacarnya, kenapa Jo putus dengan pacarnya, sampai tahap apa hubungan Jo dengan pacarnya. Semua selalu dapat ditutup Jo rapat-rapat seolah Ems tidak boleh tahu tentang perkembangan kehidupan percintaannya.

Tak berbeda jauh dengan Jo, Ems pun sebenarnya punya rasa-rasa yang sering menggelitik perutnya saat melihat Jo. Di sering sekali merasakan kejutan-kejutan aneh yang ia rasakan di dadanya ketika berada di dekat Jo, tapi Ems selalu menolak mentah-mentah gejala biologis yang selalu ia dapatkan itu. Singkat kata, Ems adalah orang yang naif dan bisa dibilang muna.

Nothing special, but why you must read this novel? Seperti yang saya bilang di atas, novel ini sangat real seperti layaknya kehidupan kita sehari-hari. Kalau biasanya kita membaca novel, kita akan dibuai dengan kisah romantis dan puitis, jauh-jauhin deh pikiran itu kalau ingin membaca Pillow Talk. Cerita yang mengalir begitu saja dan tidak dibuat-buat serta tokoh Jo yang menurut saya tipe sebelas duabelas dengan Maximilliam Prasetya di Melbourne nya Winna Effendi. Meski dari segi cool, saya lebih suka Max dibanding Jo.

Sama seperti arti Laura bagi Max. Ems adalah nomer satu dalam hidup Jo, melebihi apapun. Mau Jo disuruh Ems keluar tengah malam atau apapun, Ems selalu dinomorsatukan melebihi pacar Jo sendiri. Menurut saya itu wajar karena saat kehidupan keluarga Jo hancur berantakan, Ems lah orang yang selalu berada di samping Jo dan menjadi tiang-tiang kehidupan Jo.

Okay, kalau saya kelamaan nulis resensi lama-lama saya bisa spoiler seluruh isi novel ini. For me, I will give four stars for this novel 🙂

Judul Buku                   : Pillow Talk

Penulis                         : Christian Simamora

Penerbit                      : Gagas Media

Tahun Terbit               : 2013

Jumlah Halaman         : 429 Halaman

Harga Buku                 : Rp 65.000

Advertisements