Tags

, , , ,

dance for twoSaya tertarik membaca novel ini setelah saya membaca beberapa review di beberapa blog dan juga goodreads. Saya pun akhirnya membeli novel ini. Keraguan saya akan novel ini hanya karena ini adalah novel ini ditulis oleh anak remaja sehingga saya meragukan kebagusan cerita yang ada di dalamnya. Saya pun membulatkan tekat membeli novel ini setelah beberapa review yang saya baca dan hampir sebagian besar review tersebut bermuatan positif. Saya sangat suka cover novel ini yang sarat keromantisan. Dua ekor angsa yang paruhnya bersentuhan dan membentuk lambang love. Dari latar gambar angsa tersebut, saya sudah menduga kalau setting novel ini pasti di luar negeri. Saya pun bertanya-tanya,kira-kira di negara mana novel ini bercerita. Saya suka review yang ada di belakang novel ini. Ada sebuah puisi yang sangat indah di sana dan membuat saya terenyuh.

“Saya tidak ingin selamanya menjadi rahasia. Saya hidupkan kamu dalam cerita.”

Ada beberapa point positif dari novel yang disajikan Tyas ini. Pertama cara penceritaannya yang unik, yakni ia menggabungkan cerita si tokoh utama dengan cerita novel yang ditulis oleh tokoh utama yang bernama Caja. Novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Caja yang kuliah di Kopenhagen dan jatuh cinta dengan seorang lelaki bernama Al. Saat mereka janji untuk bertemu, naasnya Al mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatannya tentang Caja. Caja sudah berusaha mencari Al tapi sayangnya Al sudah kembali ke Indonesia dan Caja harus menunggu kuliahnya kelar dulu sebelum kembali ke Indonesia.

Sebagian besar setting cerita ternyata tidak hanya berpusat di Kopenhagen. Kota Jogja juga turut andil dalam latar novel ini. Caja yang kembali ke Indonesia bertemu lagi dengan Al yang juga tinggal di Jogja. Mereka bertemu sebagai editor dan penulis. Caja penulis novel dan Al adalah editornya. Novel Caja yang sedang diedit Al ini adalah novel yang mengisahkan tentang dirinya sendiri sebagai secret admirer Al selama ia berada di Kopenhagen. Well, disinilah letak keunikan penceritaan si penulis karena selain ia bercerita dalam dunia nyata yang dialami Caja dan Al, ia juga menceritakan Caja dan Al dalam novel yang Caja tulis (Ga pada bingung khan maksud saya?)

Semakin membaca novel Caja, Al semakin yakin kalau tokoh lelaki yang diceritakan Caja adalah dirinya. Caja yang kalau di Indonesia dipanggil Satya (saya lebih suka memanggilnya Caja) merasa tidak enak pada Al. Okey, tebak sendiri akhir ceritanya yah! Yang pasti harus baca novelnya.

Selain cara penceritaannya, saya suka nama panjang Al. Albizia Falcataria yang merupakan nama ilmiah pohon Jeunjing. Al yang punya hobi fotografi sering sekali memotret pohon yang usut punya usut ada kaitannya dengan Ni Luh mantan kekasihnya. Pasti semakin penasaran khan?

Hal positif lainnya adalah adanya ilustrasi yang disajikan di dalam novel ini. Ada beberapa ilustrasi manusia yang sangat mendukung dalam membangun alur cerita dan saya sangat menyukai ilustrasi-ilustrasi tersebut.

Selalu ada sisi negatif dalam setiap novel. Hanya satu kekurangan dalam novel ini, saya tidak menemukan konflik yang mendalam. Mungkin karena penulis focus dikeunikan gaya bercerita sehingga konflik yang disajikan bagi saya kurang nampol. Meski seperti itu, novel ini sangat tenang dan adem untuk dibaca. Recommended buat orang yang suka karakter-karakter yang dewasa (deasa dalam arti gaya berpikir) karena tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini sangat dewasa dari segi pembawaan dan gaya berpikirnya. Empat bintang saya berikan untuk novel karya Tyas Effendi ini.

 

 

Judul Buku: Dance for Two

Penulis: Tyas Effendi

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2013

Jumlah Halaman: 238 halaman

Harga Buku: Rp 41.000

 

Advertisements