Tags

, , , , ,

melbourneMelbourne. Saya bisa menghabiskan lebih dari sepuluh halaman untuk menceritakan tentang novel besutan Mba Winna Efendi ini. Sejak karyanya yang berjudul Ai dan Refrain, saya telah menjadi penggemer tulisan-tulisan Mba Winna. Satu hal yang saya suka dari tulisan Mba Winna adalah ia dapat menyentuh perasaan pembaca dengan karakter dan alur yang dibuat pada novel-novelnya.

Jujur saja, saya sempat stuck dan tidak membaca Melbourne lagi setelah membaca setidaknya sepuluh halaman pertama. Alasan utamanya adalah boring.  Tapi setelah saya melanjutkan membacanya. Novel ini sungguh-sungguh WOW! Saya sendiri sedikit kaget dengan perkembangan gaya menulis Mba Winna yang sebelumnya hanya menitikberatkan pada perasaan yang ingin ia sampaikan dalam novel-novel yang pernah ia tulis. Kali ini setting latar dan beberapa faktor pendukung lainnya seperti penjabaran tentang cahaya dan juga beberapa quotes yang menurut saya sangat membekas pada saya.

Mengambil setting Melbourne, novel yang mengusung tema Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) mampu menurunkan London dari peringkat novel STPC favorit saya setelah saya membaca London dan Tokyo. Tadinya saya pikir cerita yang ditawarkan klise dengan kisah CLBK atau TTMan. Tapi ternyata ada banyak kejutan-kejutan yang dihadirkan oleh Mba Winna yang membuat saya sangat tertarik untuk melanjutkan halaman demi halaman yang ada dalam novel ini.

Cerita berkisah tentang Maximillian Prasetya (entah kenapa saya jadi suka sekali nama ini) dan Laura Winardi yang tadinya merupakan sepasang kekasih, lalu berpisah dan bertemu kembali. Dari segi penceritaan menurut saya cukup unik karena ada dua sudut pandang yang dihadirkan oleh Mba Winna. Sudut pandang Max dan Laura. Jika biasanya perpindahan sudut pandang itu perbab, dalam Melbourne ini perpindahan sudut pandang bisa dalam beberapa scene dan menurut saya ini cukup menarik karena saya bisa tahu apa yang dirasakan Max dan apa yang dirasakan Laura.

Max sangat menyukai cahaya dan sangat terobsesi tentang cahaya. Ia putus dengan Laura karena ia mengejar cita-citanya sebagai penggapai cahaya. Setelah bertahun-tahun berpisah, akhirnya Max bertemu lagi dengan Laura, meski pertemuan mereka direncanakan oleh Max karena Max sengaja datang ke tempat siaran radio Laura. Sejak saat itu mereka jadi dekat kembali. Well, kalian pasti bisa menebak kelanjutannya. Pada pertengahan cerita dihadirkan tokoh Evan yang membuat saya tercengang karena cerita yang dihadirkan Mba Winna tentang Evan dan Laura. Ups! Saya ga boleh spoiler nih.

Saya sangat menyukai tokoh Max. Ralat! Iam definitely totally falling in love with Maximillian Prasetya. Entah mengapa karakter Max bisa membuat saya menyukainya, mungkin karena perpaduan kind, sweet, and care at the sametime yang bisa bikin saya sering tersentuh sama perlakuannya terhadap Laura. Menurut saya Max tipe lelaki yang setia karena ia susah sekali move on dari Laura. Ternyata ada juga lelaki yang ga bisa moveon. Meski ia sudah pacaran dengan wanita manapun, meski ia sudah digoda oleh wanita apapun, ia tetap teringat pada Laura. He’s a man who can give anything to his girlfriend and I love it!

Hal lain yang saya suka dari novel ini adalah judul bab yang terdiri dari playlist lagu. Saya sampai mendownload lagu-lagu yang ada dalam Melbourne and I love all the song in the Melbourne playlist. Selain itu ada beberapa quotes yang ditebar oleh Mba Winna. Salah satunya adalah “A song tell the story of your life. There’s always a personal history attached to it. Just like how this one particular song reminds me of a person I used to know.

Keren banget pokoknya novel Mba Winna kali ini. Recommended! Saya tidak menemukan cela untuk dapat dicela. So, overall I give you five stars.

Judul Buku: Melbourne (STPC)

Penulis: Winna Efendi

Penerbit: Gagas Media

Tahun Terbit: 2013

Jumlah Halaman: 328 halaman

Advertisements