Tags

, , ,

Karya Gagal“Ketika saya belajar dari yang buruk, saya menciptakan otentisitas sendiri.” 

(G. Lini Hanafiah, YUK NULIS! Mengurai benang kusut ide menjadi tulisan inspiratif, 2009)

Selama ini, para penulis ternama menyarankan kepada penulis-penulis pemula untuk belajar dari karya-karya sastra maestro agar dapat menghasilkan karya yang baik. Tetapi, suatu pernyataan berbeda kemudian saya temukan di sebuah e-book gratis YukNulis.com yang ditulis oleh G. Lini Hanafiah, seorang pemerhati sastra, teater, jurnalistik, dan dunia kepenulisan. G. Lini Hanafiah mengatakan, mulailah dari yang “buruk” untuk menghasilkan karya yang otentik. Sebab belajar dari yang “baik” hanya akan membuat Anda menjadi “pengikut”.

Suatu cara berpikir yang berbeda dan menarik. Selama ini, dalam belajar mengarang di bangku sekolah sekalipun, contoh yang dicantumkan dalam buku Bahasa Indonesia adalah karya-karya sastrawan ternama yang karyanya telah mendapat penghargaan beraneka ragam. Bahkan, seakan, ada sebuah pakem yang menyatakan secara tidak tertulis, karya sastra yang baik adalah karya yang seperti para maestro tersebut.

Padahal penulis pemula lebih mudah memahami cara menulis yang baik dari kesalahan penulis yang karyanya gagal atau buruk. Seperti yang dilakukan oleh annida-online.com terhadap cerpen-cerpen rijek. Annida memberikan media pembelajaran yang benar-benar praktis untuk pemula, dengan memberikan ulasan terhadap cerpen-cerpen kiriman yang sampai ke meja redaksi tapi tidak memenuhi syarat untuk dipublikasikan.

Melalui ulasan cerpen-cerpen rijek tersebut, penulis dapat mengetahui letak kegagalannya. Sehingga di masa yang akan datang dia mampu menghasilkan cerpen yang lebih baik lagi dibandingkan cerpen yang telah ditolak tersebut. Tentu pembelajaran ini tidak saja bermanfaat bagi penulis yang telah mendapat ulasan, tetapi juga penulis lain yang sedang belajar membuat karya.

Namun, ada catatan kecil yang perlu diingat ketika penulis pemula berusaha belajar dari karya yang gagal. Pertama, penulis tersebut pun telah memahami sebelumnya bagaimana karya yang dianggap bagus tersebut. Kedua, perlu teman diskusi. Ketiga, tetap banyak membaca.

Sumber: id.shvoong.com

Advertisements