Tags

, ,

Menulis dan Membaca“Ia menulis karena banyak membaca. Bukan terpaksa membaca karena harus menulis. Ia adalah Asma Nadia, nama pena dari Asmarani Rosalba.”

(Satria Nova, Ternyata Menulis Itu Mudah dan Menghasilkan Uang, 2011, halaman 40)

Siapa yang tidak tahu Asma Nadia? Sebagai salah satu penggagas berdirinya Forum Lingkar Pena yang saat ini tumbuh laksana gurita raksasa yang telah menghasilkan ribuan penulis. Beliau telah menelurkan banyak buku bestseller maupun buku yang memperoleh penghargaan. Sering diundang sebagai pembicara dalam dunia kepenulisan baik di dalam maupun luar negeri.

Ternyata kunci suksesnya selain tekun menulis adalah kebiasaannya yang suka membaca. Rata-rata 1-2 buku dilahapnya setiap hari. Membaca baginya adalah amunisi untuk berperang saat menulis. Buku adalah sumber wawasan. Tulisan yang diisi dengan wawasan yang luas akan menjadi lautan biru megah tanpa batas, tetapi tulisan tanpa landasan wawasan akan terasa kering dan tandus. Wawasan ini pula yang membuat seorang penulis jarang mengalami kebuntuan ketika menulis. Karena itu, membaca lah sebanyak mungkin agar Anda lancar menulis selayaknya air bah.
Mengapa saya sebut menulis dan membaca adalah saudara kembar siam? Seperti fakta yang saya tulis di atas, kegiatan menulis tidak pernah lepas dari kegiatan membaca. Sebab membaca adalah thesis dan menulis adalah antithesis, maksudnya ialah bahwa setiap tulisan baru merupakan penyanggahan atau persetujuan dari tulisan sebelumnya.

Jadi, membaca dan menulis tidak mungkin dipisahkan. Keduanya saling terkait. Keduanya dekat dan akrab. Keduanya pula sering bermusuhan dan berdebat. Tetapi keduanya hadir untuk saling melengkapi.

Sumber: id.shvoong.com

http://id.shvoong.com/how-to/writing/2170631-membaca-dan-menulis-adalah-saudara/#ixzz1UUUHzuCC

Advertisements