Tags

, , , ,

Kamboja memiliki berbagai macam wisata alam yang menjadi favorit bagi wisatawan seperti Istana Raja Norodom dengan Pagoda Perak di dalamnya, Angkor Wat yaitu sebuah candi Buddha yang megah, Wat Phnom yaitu sebuah pagoda besar di tengah kota, atau berbelanja di Russian Market atau Pasar Rusia yang menjual sutra, kaus, pakaian, dan pernak-pernik. Tapi pernahkah terlintas dalam pikiran untuk berwisata ke tempat yang mempunyai sejarah yang kelam. Kamboja memiliki dua tempat yang memiliki sejarah yang kelam, yakni penjara di Tuol Sleng dan ladang Cheoung Ek yang terletak di sebelah timur negara Kamboja. Kedua tempat itu merupakan tempat bersejarah alias saksi bisu dari kekejaman Khmer Merah.

Pada pertengahan 1970-an, Kamboja dikuasai rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot, yang memiliki cita-cita mengubah Kamboja menjadi negara agraris dengan menganut paham ultra-Maoisme. Dia memindahkan orang dari kota ke desa untuk bekerja di ladang dan membunuh siapa saja yang menentang. Banyak orang tak bersalah, termasuk wanita, anak-anak, dan orang tua yang menjadi korban kekejaman rezim Khmer Merah. Kekejaman kelompok Khmer Merah pimpinan Pol Pot pada 1970-an meninggalkan luka mendalam bagi warga Kamboja, terutama para kerabat korban kekejaman Khmer Merah.

Tuol Seng bukan hanya sebuah museum biasa, yang banyak juga dijumpai di negara lain. Tempat ini menyajikan sesuatu yang sangat berbeda. Tuol Sleng dulunya adalah sebuah SMA yang pada 1975 diubah menjadi penjara bernama Security-21 atau S-21. Kabarnya terdapat sekitar 17 hingga 20 ribu warga Kamboja tak bersalah serta sejumlah orang asing yang pernah dipenjara di sini. Dan dari semua orang yang ditahan tersebut, hanya tujuh orang yang selamat hingga rezim Khmer Merah ditumbangkan. Ruang-ruang kelas diisi oleh berbagai alat penyiksa, rantai besi, sementara dari jendela saya dapat melihat pagar tinggi berkawat besi. Ruang-ruang yang lain telah diubah menjadi sel-sel berukuran 1×1 meter. Bercak darah masih terlihat di mana-mana.

Di salah satu ruangan terdapat berbagai foto wajah. Para petugas S-21 memotret setiap tahanan yang masuk ke penjara tersebut. Semua dengan ekspresi kosong. Seolah tatapan mereka menyiratkan bahwa mereka tahu hidup tidak akan lama lagi dan sebelum mati pun harus mengalami penyiksaan di luar batas kemanusiaan. Salah satu hal yang paling menonjol di tempat ini adalah Peta Tengkorak, yakni peta Kamboja yang terbuat dari 300 tengkorak manusia. Di tempat lain pakaian bekas para tahanan ditumpuk menjadi satu. Foto maupun lukisan yang menggambarkan penyiksaan orang-orang tak bersalah dipajang di dinding.

Kamar PenyiksaanDi luar ruangan, ternyata masih banyak alat penyiksa yang digunakan oleh para sipir S-21. Salah satunya adalah gentong-gentong besar yang berdiri berjajar. Dahulu, para siswa menggunakan air dalam gentong untuk membasuh wajah. Namun, ketika tempat ini diubah menjadi penjara, para petugas membangun tiang di atas gentong-gentong tersebut. Tahanan akan digantung terbalik, dengan kepala dibenamkan dalam air.

Menara TengkorakLadang Choeung Ek atau yang lebih dikenal dengan nama ‘ladang pembunuhan’ Choeung Ek kondisinya tak jauh berbeda dengan penjara di Tuol Sleng. Para tahanan yang dipenjara di Tuol Sleng, yang belum meninggal tentunya, akan dibawa ke Cheoung Ek untuk dibunuh secara massal. Di Cheoung Ek, bangunan yang  paling menonjol adalah sebuah menara tinggi, yang di dalamnya terdapat tumpukan kurang lebih 8 ribu tengkorak manusia hasil kekejaman  Khmar Merah. Tumpukan pakaian bekas para korban tersebut pun dipajang di dalam menara. Di sebuah sudut, ada berbagai alat pembunuh yang dulu digunakan untuk menghabisi para tahanan. Sangkur, rantai besi, dan berbagai peralatan pembunuh lainnya.

Tuol Sleng dan Cheoung Ek merupakan saksi bisu dari kekejaman Khmer Merah. Tentunya kisah ini mengingatkan kita akan PKI (Partai Komunis Indonesia)  yang sempat mengegerkan Indonesia dengan menyiksa dan membunuh para Jendral dengan sadis, tapi tentunya yang dialami bangsa Indonesia tidak setragis yang dialami bangsa Kamboja. Semoga saja tidak akan ada lagi Khmar Merah maupun PKI.

Sumber: Wikipedia.com, mernaarini.wordpress.com, travelindo.com

Dimuat di www.jadiberita.com

Advertisements