Tags

, ,

Pekan Raya Jakarta (PRJ) selalu diadakan untuk menyambut ultah kota Jakarta. Hal ini tentunya menjadi antusiasme tersendiri bagi warga Jakarta dan sekitarnya. PRJ menjadi pembicaraan di Facebook, twitter, blogger, dan situs jejaring sosial lainnya. PRJ kali ini tentunya tidak jauh berbeda dengan PRJ di tahun-tahun sebelumnya. Selain ada otomotif, fashion, aksesoris, juga ada kuliner khas Betawi. Nah, isu pembicaraan yang berkembang di situs jejaring sosial bukan membicarakan tentang apa saja yang ada di PRJ tapi malah membicarakan soal preman berseragam yang ada di PRJ.

Banyak para pengunjung yang mengeluhkan tentang pengelolaan PRJ, mulai dari minimnya lahan parkir, tukang parkir liar yang memungut uang parkir sampai puluhan ribu , sampai tempat makan yang mematok harga sampai ratusan ribu rupiah. Ternyata moment PRJ ini malah dijadikan lahan uang oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tentunya orang-orang ini bukan panitia resmi PRJ, tetapi para preman yang berada di sekitar PRJ.

Menurut salah satu pengunjung yang pergi ke PRJ, dia mengatakan harga makanan di depan gerbang dan sekitar PRJ sangat mahal sekali, melebihi harga makanan di dalam PRJ. Untuk 1 porsi nasi goreng dan 1 teh botol dibandrol dengan harga mencapai Rp 100.000. Ini ga bohong loh! Kalau kita tidak mau membayar, maka mereka akan memanggil preman berseragam yang datang bergerombol dan mau tidak mau dengan terpaksa pengunjung harus merogoh koceknya, daripada babak belur.

Jika kita melihat dari sisi penjual, sebenarnya hal yang dilakukan pedagang tersebut wajar, yakni menaikkan harga makanannya. Ada salah seorang pedagang soto yang berjualan beberapa meter dari pintu masuk PRJ yang mengatakan preman setempat memungut iuran mulai dari Rp 4jt-Rp 12jt untuk para pedagang yang berada di sekitar lokasi. Pedagang pun terpaksa menaikkan harga makanan untuk menutupi harga sewa. “Kalau harga makanan tidak dinaikkan, kami akan rugi”, ucap salah satu pedagang soto yang ada di sana.

Tak berbeda jauh dengan pengunjung yang memarkir mobil di luar PRJ. Mereka akan dikenakan tarif sampai Rp 50.000/mobil atau Rp 20.000/motor. Banyak pengunjung yang akhirnya adu mulut dengan para preman alias tukang parkir liar ini. Hampir setiap hari selama PRJ berlangsung ada saja adu mulut bahkan ada yang sampai berkelahi di parkir luar PRJ.

Aparat yang berjaga di sana tak satu pun yang berusaha melerai. Alhasil pengunjung dengan terpaksa menyerahkan sejumlah uang yang diminta kepada preman. Jika mereka sampai tidak menyerahkan uang yang di minta, preman berseragam tersebut akan memecahkan kaca mobil pengunjung.

Para pengunjung dan pedagang di sana sebenarnya diresahkan oleh kehadiran preman berseragam. Padahal preman tersebut memakai atribut komunitas tertentu. Apakah memang benar preman-preman tersebut aktivis komunitas ataukah hanya penyusup atau orang yang sengaja ingin memanfaatkan atribut tersebut untuk memalak. Seperti aksi-aksi demo yang memakai almamater, padahal orang tersebut bukan mahasiswa almamater tersebut, bisa dikatakan orang-orang seperti itu adalah penyusup.

Minimnya kontrol panitia dan ketidaksigapan aparat pemerintah dalam menangani  kasus-kasus seperti ini tentunya menjadi perhatian khusus dalam mengelola PRJ. Jika panitia dan aparat lebih serius menanggapi, tentunya pedagang dan pengunjung menjadi aman dan betah datang ke PRJ. Bukannya datang ke PRJ bukannya senang-senang malah jadi susah.

Dimuat di www.jadiberita.com

Advertisements