Tags

Kelompok teater peraih gelar Kelompok Terbaik pada perhelatan Festival Teater Jakarta 2010 akan mementaskan ulang “Ni Rangda” di Bandung. Pementasan rencananya akan dilaksanakan di dua tempat. Pementasan ulang pertama akan dilangsungkan di Auditorium Universitas Tirtayasa, Serang, Banten pada 8 Maret 2011, sedangkan pentas ulang berikutnya akan dihelat di Gedung Kesenian Dewi Asri, STSI Bandung, Jawa Barat pada 16 Maret mendatang.

Pertunjukan teater “Ni Rangda” karya Pramoedya Ananta Toer yang dikemas kental dengan unsur tradisi meraih banyak penghargaan pada gelaran Festival Teater Jakarta 2010 yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada Desember lalu.  Selain dinyatakan sebagai Grup Terbaik, kelompok Stage Corner Community juga meraih titel Sutradara Terbaik, Pemeran Pembantu Wanita Terbaik, Penata Artistik Terbaik dan Penata Musik Terbaik.

“Sebuah legenda Indonesia yang sakti dan tak pernah mati”, itulah ungkapan paling tepat untuk menggambarkan kisah Calon Arang. Sebuah kisah yang mempunyai tempat tersendiri dalam tradisi dan budaya Bali, meski sejarah perlu meluruskan, bila kemurnian tempat lahirnya cerita Calon Arang berasal dari kerajaan Kediri di bawah pemerintahan Raja Erlangga. Oleh karena itu, Calon arang yang mengusung daerah Jawa-Bali merupakan cerita multikultural rakyat Indonesia yang menarik dan banyak ditafsirkan dengan interpretasi yang berbeda. Di Bali Calon Arang menjadi sosok yang kental untuk sebuah pertunjukan tari, teater dan upacara. Teater calon arang diperkirakan telah muncul dalam masyarakat Bali sejak 1825 di masa kerajaan Klungkung Bali.

Calon Arang secara garis besar menceritakan sosok perempuan, Ni Rangda seorang janda yang terhina karena putrinya Ratna Manggali yang elok rupawan tetapi selalu dipergunjingkan, diasingkan dan sulit mendapat suami karena ketakutan masyarakat Jirah atau Dirah dengan ilmu teluh Ibu nya. Sakit hati Ni Rangda menjadi bencana dengan teluh dasyat atas restu Dewi Durga (Dewi Kematian dan kehancuran) hingga meleburkan sebuah desa.

Interpretasi calon arang yang berbeda-beda melahirkan embrio tesk sastra yang luar biasa. I Made Sustika dalam bukunya “Calon Arang dalam Tradisi bali” (2006) meringkas calon arang sebagai sihir hitam yang dihubungkan dengan perleakkan dan konon membuat lawannya jatuh sakit. Hubungan antara budaya dan tradisi masyarakat Bali yang religius.

Berbeda dengan Cok Sawitri, sastrawan asal Bali dalam bukunya “Janda dari Jirah” menafsirkan calon arang sebagai bhikuni perempuan yang mendalami ajaran Budha dan begitu disegani bahkan oleh Raja Airlangga. Cok menggali sejarah lebih lanjut tentang calon arang yang memiliki kekuatan luar biasa, tokoh perempuan dengan kewibawaan seorang btari dan kesaktiannya.

“Cerita Calon Arang” karya Pramoedya Ananta Toer ditulis pada tahun 1954 dan pernah diterbitkan kembali tahun 1999, dalam edisi Bahasa Inggris berjudul, “The King, The Witch and The Priest” sebagai bentuk sastra modern yang mengusung cerita tradisi. Dan pilihan Stage Corner Community (SCC) jatuh kepada karya Pramoedya untuk mentafsirkan bebas dalam bentuk naskah teater berjudul “Ni Rangda” dengan seijin keluarga Pramoedya.

Proses kreatif pengadaptasian pun tidak hanya fokus pada karya Pram, berbagai referensi kami kumpulkan dan kami olah dengan pilihan bentuk konsep tradisi yang menitikberatkan pada eksplorasi tubuh, emosi dan penjiwaan aktor. Tidak hanya aktor bahkan, temali antara penyutradaraan, gerak koreografer, musik, artistik, hingga kostum, keseluruhannya memiliki temali yang erat hingga melahirkan dalam bentuk visual panggung teater

Sumber berita: dkj.or.id dan m3y2_cHaN

Sumber gambar: indonesiakreatif.net

Advertisements