Tags

“Mari kita berdansa!”

Alunan musik mulai berganti irama. Setiap orang saling mencari pasangan dan mulai berdansa berpasangan. Rani berdiri terdiam dipojok ruangan sambil memegang segelas minuman. Gaun yang dikenakan terlihat anggun sekali. Gaun selutut yang berwarna biru pastel dihiasi dengan renda organdi border berwarna putih. Bagian belakang gaun dihiasi pita berwarna biru muda yang terletak pas di belakang pinggang mungilnya. Kulitnya yang seputih susu sangat cocok dihiasi kalung dan gelang mutiara asli yang terlihat sangat mewah sekali. Rambutnya hitam lurus sebahu dan sangat berkilau. Perawatan yang selama ini ia lakukan tidak sia-sia. Make upnya yang tipis menambah anggun gaya Rani. Bibirnya yang tipis memakai lipstick peach muda, pipinya yang tirus memakai blush on perpaduan antara warna peach tua dan pink pastel. Matanya yang besar sangat indah, namun terlihat sendu. Sorot matanya tak lepas dari sesosok pria yang mengenakan setelan jas hitam persis di seberangnya.

Sosok pria tersebut bernama Randi. Seorang ketua Osis yang sangat berwibawa. Sekejap Rani memalingkan mukanya dari pria tersebut. Wajahnya terlihat sangat sedih. Di akhir Waltznya Randi yang selama ini didambakan Rani, mengulurkan tangannya kepada Sora, gadis cantik berambut hitam ikal panjang terkaget kemudian tersenyum melihat Randi mengajaknya berdansa.

“Tunjukkan kebernianmu! Sambutlah tangan ini! Mari kita berdansa Last Waltz bersama.” Salah seorang pembawa sangat bersemangat memandu jalannya akhir acara.

Tapi tak begitu dengan Rani, ia tampak sangat lesu. Ia keudian melangkahkan kakinya keluar ruangan untuk pergi dari pesta dansa yang meriah dan berniat untuk pulang ke rumah. Hari masih sangat terang, tapi di luar sudah mulai rintik-rintik hujan yang berjatuhan.

***

“Kei kau pulang? Last Waltznya bagaimana?”

“Aku tidak ingin memaksa seseorang untuk menari bersamaku.”

Kei melangkahkan kaki keluar ruangan. Pandangannya terpaku pada sosok seorang gadis yang berdiri di tengah-tengah hujan. Gadis itu melepas sepatu haknya sambil menyisingkan gaunnya. Ia terlihat sangat sedih. Air matanya menetes….

To be continue

Advertisements